Ada 2 Rukun Puasa Yang Wajib Untuk Sahabat Ketahui

Ada 2 Rukun Puasa Yang Wajib Untuk Sahabat Ketahui | Assalamualaikum wr.wb sahabat ? Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah SWT. Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai topik rukun puasa agar ibadah puasa kita bisa diterima oleh Allah swt. Puasa terbagi menjadi 2 kategori yakni puasa wajib dan puasa sunnah. Kedua kategori puasa ini memiliki 2 rukun yang wajib untuk dilaksanakan , tanpa rukun ini puasa menjadi tidak sah dihadapan Allah SWT.

Karena begitu pentingnya rukun tersebut , maka sahabat wajib tahu dan juga mengamalkannya. Adapun 2 rukun puasa tersebut yaitu , Niat dan Menahan diri dari pembatal-pembatal puasa ( imsyak ).

Rukun Puasa

2 Rukun Puasa Lengkap Dengan Penjelasannya

1. Niat

Yang Pertama Niat , Niat adalah penegasan status fardu dari ibadah puasa Ramadhan. Namun beberapa ulama tidak memasukkan niat ke dalam rukun puasa, melainkan memasukkan ke dalam syarat sah puasa. Hal ini menunjukkan kejelasan adanya ibadah, bukan hanya sekadar kehendak menunaikannya. Menurut ulama Mazhab Syafi’i, setiap orang yang hendak berpuasa disunahkan untuk melafalkan bacaan niatnya.

Mazhab Al-Hanabilah mendefinisikan niat sebagai :

عَزْمُ الْقَلْبِ عَلَى فِعْل الْعِبَادَةِ تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

Tekat hati untuk mengerjakan suatu ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah SWT Ibadah itu dikerjakan dengan hanya mengharap Allah. Dan bukan dengan mengharap yang lain, seperti melakukannya demi makhluk, atau mencari harta dan pujian dari manusia, atau agar mendapatkan kecintaan dari memuji mereka.

Puasa yang dilakukan oleh seseorang akan menjadi tidak sah apabila tidak dilandasi dengan niat. Bahkan setiap bentuk ibadah juga demikian keadaannya, yaitu membutuhkan niat. Semua itu didasari oleh hadits nabawi berikut ini :

إِنَّمَا الأَعْماَلُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلٍّ امْرِءٍ مَا نَوَى

” Sesungguhnya amal ibadah itu harus dengan niat. Dan setiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya. ” (HR. Bukhari).

Selain itu juga ada hadits yang menyebutkan betapa pentingnya kedudukan niat di dalam hati.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

” Sesungguhnya Allah tidak melilhat pada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat pada hati dan perbuatan kalian.” (HR. Muslim)

Jumhur ulama sepakat bahwa niat untuk berpuasa fardhu harus sudah terpasang sejak sebelum memulai puasa. Dan puasa wajib itu tidak sah bila tidak berniat sebelum waktu fajar itu.

2. Menahan Diri dari Hal- Hal Pembatal Puasa ( Imsyak )

Rukun puasa yang kedua adalah imsak (إمساك) yaitu menahan diri dari segala hal- hal yang membatalkan puasa sejak dari terbitnya fajar hingga masuknya waktu malam, yang ditandai dengan terbenamnya matahari. Batasan ini telah ditegaskan Allah SWT di dalam Alquran :

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ

” Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. “(QS. Surat Al-Baqarah : 187)

Makna ungkapan benang putih adalah putihnya siang dan benang hitam adalah hitamnya malam. Dan yang dimaksud dengan hal itu tidak lain adalah terbitnya fajar. Sedangkan batas akhirnya disebutkan sampai malam, tetapi yang dimaksud adalah terbenamnya matahari.

Makna imsak secara istilah dalam bab fiqih puasa adalah

الْكَفُّ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ وَالاِمْتِنَاعُ عَنِ الأَْكْل وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ

” Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dan menaham dari makan, minum dan jima’.

Jadi imsak pada dasarnya adalah menahan atau tidak melakukan segala hal yang membatalkan puasa. Dan di antara hal-hal yang membatalkan puasa itu adalah makan, minum, berhubungan suami istri, sengaja mengeluarkan mani, serta banyak hal lain yang disimpulkan oleh para ulama.

Demikianlah ulasan 2 Rukun Puasa lengkap dengan penjelasannya. Semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat untuk menjalankan puasa dengan ketentuan ketentuan tersebut. Wallahu A’lam Bishawab.